Diberdayakan oleh Blogger.
  • Home
  • About Me
  • Thought
    • Self-Talk
    • Thought Of Life
  • Contact

A Room To Talk

Pernah berpikir kenapa manusia di kotak-kotakan dengan kepribadian MBTI antara Introvert dan Ekstrovert? Haha sebab jujur saja, aku sebenarnya nggak terlalu suka konsep ini untuk mengkotak-kotakan orang tapi nyatanya banyak manusia yang kulihat memang terdiri antara dua hal tersebut secara kepribadian? Siapa sih yang pertama kali memberi label Introvert dan Ekstrovert pada kepribadian tertentu? Dan, kenapa perlu? Eh, apa nggak perlu? Hahaha.

Source: Pinterest

Sebenarnya nggak ada yang lebih keren antara introvert dan ekstrovert ini. Perbedaan dua kepribadian ini hanya terletak di sumber energi mereka aja. Seorang introvert biasanya mendapatkan kembali atau meng-charge energi mereka kembali dengan cara memiliki waktu dengan diri mereka sendiri, seperti me time baca buku atau menonton film, mendengarkan musik, dan kegiatan lain yang mereka lakukan dengan diri mereka sendiri yang biasanya tanpa ada intrupsi dari orang lain. Sedangkan seorang ekstrovert biasanya mendapatkan energi mereka kembali dengan cara melakukan interaksi sosial dengan orang banyak, misalnya hang out dengan teman, melakukan kegiatan yang disukai bersama teman, dan kegiatan lain yang mengharuskan mereka melakukan interaksi sosial. Semakin banyak interaksi sosial yang mereka lakukan, semakin banyak pula energi yang mereka punya. 

Dua kepribadian ini sebenarnya sama sekali nggak berkaitan dengan sifat atau karakter seseorang. Namun seringnya masih banyak orang yang mencocokan kepribadian ini dengan sifat atau karakter seseorang. Misal seorang introvert pasti memiliki sifat pemalu dan pendiam, sementara seorang ekstrovert pasti memiliki sifat periang dan percaya diri. Eittss, ini nggak berkaitan ya!

Ciri-ciri sederhana introvert yakni biasanya mereka lebih suka pembicaraan dengan topik yang mendalam (deep conversation) sehingga mereka nggak terlalu suka berbasa-basi. Biasanya mereka juga lebih nyaman sendiri atau berada di kelompok kecil. Mereka cenderung lebih banyak berpikir dan mengamati lingkungan sekitarnya dibandingan dengan melakukan interaksi sosial. Mereka memiliki kapasitas interaksi sosial yang terbatas, namun mereka tahu mereka tetap membutuhkannya. Ketika terlalu sering berinteraksi sosial atau terlalu lama berada dalam keramaian, energi mereka mudah sekali habis.

Sedangkan kebalikannya dengan introvert, ekstrovert tentu lebih suka keramaian dengan banyak orang dan senang berinteraksi sosial. Justru hal tersebut malah membuat energi mereka semakin penuh. Para ekstrovert cenderung lebih bisa untuk berbasa-basi dan membuka obrolan dengan orang lain sehingga tak jarang mereka lebih sering mengambil inisiatif pertama untuk membuka pembicaraan dengan orang lain. Seorang ekstrovert pun cenderung memiliki kepercayaan diri yang tinggi dibanding introvert dan lebih mudah untuk beradaptasi di lingkungan baru.

Jadi udah pada tahu 'kan bedanya introvert dan ekstrovert? Nggak perlu ributin siapa yang paling keren, karena dua dua nya juga udah keren, kok. Karena pada dasarnya setiap tipe kepribadian pasti memiliki sisi kelebihan dan kekurangan, kok. Dan nggak ada yang lebih keren diantara semua tipe kepribadian. Dengan mengetahui dua dari sekian banyak tipe kepribadian ini, jujur aja buat aku jadi belajar untuk memahami sifat atau karakter orang lain. Bukan bermaksud untuk mengkotak-kotakan, namun aku lebih senang belajar untuk memahami orang lain agar aku bisa memposisikan diri dengan tepat di depan orang lain dan lingkungan yang aku tinggali. Ehehe. 

Coba tebak, aku introvert atau ekstrovert kira-kira? Lol. See you on another post, people! :)




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
kalau berbicara tentang pernikahan memang nggak pernah ada habisnya, dimulai dari tentang pencarian jodohnya, persiapan pernikahannya, hingga hidup setelah pernikahannya. there's so much we could talk about. tulisan kali ini masih nggak jauh dari tentang pernikahan. it's party, wedding party. 



sejak pandemi covid-19 kita dilarang untuk berkumpul dalam jumlah yang besar, kita diharuskan untuk membatasi berbagai kegiatan sosial dengan manusia lain, dan berbagai larangan lainnya yang memiliki resiko penyebaran virus covid-19. berbagai larangan ini tentu saja berimbas pada berbagai sektor kehidupan, termasuk pada sektor pernikahan. banyak pasangan yang sudah merencanakan pernikahan memilih untuk menunda pesta pernikahannya disebabkan oleh larangan-larangan terkait covid-19, dan para vendor wedding pun nggak mau ambil resiko.

beberapa orang yang ku kenal pun memilih untuk menunda acara pernikahan karena pada tanggal tersebut masih terdapat larangan berkumpul, juga ada beberapa orang yang memilih melangsungkan akad nikah dengan sangat sederhana tanpa mengundang banyak orang bahkan keluarga besar yang jauh mereka sekalipun, dan memilih tanggal lain untuk melangsungkan pesta pernikahan.
aku adalah salah satu orang yang menikah di tahun 2020 dan memilih acara sederhana tanpa adanya pesta pernikahan seperti orang lain. everybody asked,

“kenapa nggak bikin pesta pernikahan yang ada resepsinya seperti orang lain? padahal pasangan yang lainnya sudah menggelar resepsi pernikahan dan itu sudah mulai sedikit demi sedikit diperbolehkan?”

aku hanya bisa tersenyum mendengar berbagai pertanyaan serupa yang mampir ke telingaku. i'm realistic person, but will fight for what i believe in. aku percaya bahwa Tuhan sudah memutuskan hari yang baik untuk pernikahanku serta siapa orang yang mendampingiku, dan itu sudah tercatat dalam Lauhul Mahfuz. aku nggak bisa bilang “i don't have my own dream wedding” karena memang sejujurnya aku punya pesta pernikahan impian, and i think everybody has it. but i'm realistic person. aku nggak suka memaksakan segala sesuatu.

di tengah segala keterbatasan yang kami punya, kami memutuskan untuk melangkah dengan kesederhanaan. kami memilih hanya menggelar acara akad nikah di rumah dengan sederhana tanpa resepsi alias pesta pernikahan pada umumnya. tanpa adanya homeband sebagai hiburan atau berbagai dekorasi mewah serta gaun-gaun pengantin yang mewah. kami pun memilih untuk mengundang sedikit orang hanya melalui pesan singkat disertai dengan undangan virtual yang aku buat sendiri di aplikasi Canva. tak ada souvernir mewah atau MC kondang yang berpengalaman. hari itu hanya kami, keluarga besar kami dan orang-orang terdekat, mengucap syukur atas kelancaran ijab qabul dan berbagai doa-doa terbaik. dalam kesederhanaan acara pernikahan kami, kami nggak berhenti untuk bersyukur atas kemudahan yang Tuhan beri, atas segala doa baik yang mereka panjatkan, serta atas segala senyum dan tawa yang mereka hadirkan di hari pernikahan kami. terlepas dari hal-hal yang sudah terjadi di hari pernikahan, aku sama sekali ngga menyesali bahwa hari itu ngga ada pesta mewah atau resepsi yang mewah seperti pernikahan pada umumnya.

menyiapkan pernikahan yang sederhana pun membutuhkan waktu dan tenaga yang ngga sedikit, terlebih ketika kamu menyiapkan hampir semuanya sendiri dimulai dari survey kesana kemari mencari vendor pernikahan yang cocok (baik cocok di hati maupun cocok di kantong) hingga menyiapkan perintilan alias hal-hal kecil yang terkadang luput dari perhatian. and finally, pada hari sabtu tanggal 24 bulan oktober tahun 2020 kami melangsungkan pernikahan dengan khidmat, memakai 1 gaun tradisional khas sunda sampai acara selesai dengan make-up yang natural. hamdallah semua berjalan lancar dan berbahagia. 

satu prinsip yang aku pegang ketika ingin melaksanakan pernikahan, yang terpenting adalah hari-hari setelah akad pernikahan itu sendiri; bagaimana kamu dan pasangan menjalani hidup bersama, bagaimana kamu dan pasangan menyelesaikan berbagai konflik yang ada dalam pernikahan, dan bagaimana kamu dan pasangan saling berbagi suka-duka serta tetap menghidupkan cinta dalam pernikahan untuk waktu yang lama (bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun ke depannya). pesta pernikahan yang mewah tak akan ada artinya ketika komitmen dan cinta pernikahan itu sendiri tak dapat dipertahankan. :)





***

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


apa sih pernikahan itu?


sejujurnya aku masih belum menemukan kalimat yang tepat untuk memaknai pernikahan meskipun saat ini sedang menjalankannya. secara keseluruhan keadaan yang kualami sendiri dan yang kurasa lebih seperti air yang mengalir. semuanya nggak selalu terasa lancar dan mudah, nggak selalu berjalan sesuai rencana atau keinginan. no, i didn't grow like that.


bagi perempuan, nggak mudah hidup dengan stigma di masyarakat yang selalu mengaitkan perempuan dengan masa depannya yang seolah sudah mutlak menjadi seorang istri dan ibu. bagi perempuan, pertanyaan tentang pernikahan nggak pernah sesederhana itu. terlebih ketika ia telah menginjak usia kepala 2, berbagai pertanyaan bermunculan menganai pernikahan. 


“ Jadi, kapan nih nyusul nikah sama pacarnya? ”

“ Kapan nikah? Buruan nanti jodohnya diambil orang, lho. ”

“ Gak usah nunda-nunda buat nikah, rejeki mah nanti aja ada di depan. ”

“ Perempuan sekolahnya gak usah tinggi-tinggi, nanti jodohnya susah. ”

“ Perempuan karirnya gak usah terlalu ambisius, nanti gak ada laki-laki yang mau deketin, lho. ”

“ Tunggu apa lagi? Kuliah udah lulus, kerja udah lumayan kan? Apa yang ditunggu lagi buat nikah? ”

“Perempuan jangan nikah tua-tua, nanti nggak laku dan bisa sulit punya anak. ”


nyatanya, perjalanan menuju sebuah pernikahan bukanlah perjalanan yang mudah, setidaknya ini berdasarkan pengalaman pribadiku. pernikahan nggak hanya sesederhana tentang ijab qabul di depan penghulu (untuk beragama islam) dan saksi atau pemberkatan di depan pendeta atau tokoh agama lain dan hidup bahagia bersama selamanya. pernikahan ternyata lebih dari itu semua. prosesi ijab qabul atau pemberkatan hanya langkah awal dalam pernikahan, ibaratnya itu hanyalah pintu. Sebuah pintu yang dibukakan oleh Tuhan sebagai tanda dimulainya hidup yang baru dari dua orang insan manusia. Setelahnya adalah perjalanan hidup yang lebih serius dari dua orang manusia yang menjadi satu di mata Tuhan. dua hidup yang berbeda dari dua orang manusia menjadi satu. that's a lot, you know?


sebegitu rumitnya arti atau makna pernikahan (seenggaknya untukku pribadi) hingga orang lain entah dari mana menanyakan hal sepribadi itu kepada seorang perempuan. ya, menurutku pernikahan adalah hal pribadi. it's personal thing for me yang aku rasa nggak harus semua orang tahu mengenai hal-hal tentang rencana pernikahan seseorang. terlebih kita saat ini hidup di jaman semua orang berlomba-lomba membagikan tentang hidupnya berkeinginan untuk diketahui orang lain dan banyak orang hanya sekedar ingin tahu tanpa pernah benar-benar peduli dengan apa yang terjadi. itulah kenapa aku nggak terlalu banyak share tentang rencana pernikahanku waktu itu, itulah kenapa aku hanya ingin keep semuanya sampai pada hari yang telah ditentukan. i want to keep those things private. 



ketika seorang perempuan mendekati usia 25, orang-orang sekitar mulai pusing sendiri, kenapa ia belum menikah padahal sudah usia hampir 25? setidaknya orang-orang seperti itulah yang ada di sekitarku. mereka mengkhawatirkan aku seorang perempuan lajang yang sudah terlihat siap menikah namun belum kunjung menikah padahal sudah memiliki pasangan. from that moment ketika suara-suara itu mulai terdengar bising di telinga, i asked myself out, “is that i really wanted? am i ready for being a wife and possibly a mother someday?” dan akhirnya aku menyadari, aku nggak pernah benar-benar merasa siap untuk semua hal tentang pernikahan dan perjalanannya. 


mereka bilang, seorang perempuan memiliki batas waktu untuk menikah sebelum mereka di cap nggak laku di masyarakat. mereka bilang, seorang perempuan memiliki batas waktu sebelum akhirnya mereka di cap expired. and that's sad ketika mereka malah menyamakan kualitas yang ada dalam diri seorang perempuan dengan barang atau makanan/minuman yang dijual di pasaran yang memiliki periode konsumsi.


masyarakat kita masih berpikir bahwa perempuan adalah makhluk nomor dua dan makhluk yang bisa dijadikan objek, seolah derajat dan harkat martabatnya hanya dinilai dari sisi status pernikahan mereka semata. setelah memiliki ikatan pernikahan pun seorang perempuan masih dianggap sebagai manusia yang mutlak terikat pada pernikahan dan segala tata aturan yang ngga banyak memberi mereka ruang untuk bekerja, berkarya, dan melakukan berbagai kegiatan yang mereka sukai. 


patriarchy.


budaya patriarki membunuh banyak perempuan dan mimpinya, membunuh banyak perempuan serta hak-hak dasarnya sebagai manusia. when we talk about patriarchy, it would never be easy in this kind of society we live in. patriarchy kills tons of women and their hopes. 


seorang perempuan dan sebuah pernikahan, seharusnya menjadi rumah yang nyaman dan meneduhkan untuk setiap orang yang merindukan pelukan dan kehangatan, bukan menjadi padang duri yang saling menusuk menyakiti satu sama lain.
seorang perempuan dan sebuah pernikahan, seharusnya menjadi satu ikatan personal yang membahagiakan, bukan dijadikan gunjingan oleh khalayak banyak seolah seorang perempuan dan sebuah pernikahan adalah hal mutlak yang membuat seorang perempuan menjadi perempuan seutuhnya. 


it's not always easy to say yes to your lover when it comes to marriage, but when you put your dreams and hopes to the right person you love, to the right person who appreciate and respect every inch of your body, mind, and soul; you'll know how to say yes to a new beginning. 





***
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
banyak pertanyaan yang diajukan oleh banyak orang kepada pasangan yang baru menikah, sebagian pertanyaan masih seputar kehidupan baru yang dijalani setelah pernikahan yang masih tergolong “wajar” dan sebagian lain pertanyaan-pertanyaan yang seringnya dirasa kurang enak didengar malah bisa disebut “nggak wajar”. ngga hanya ke pasangan yang baru menikah, beberapa pertanyaan “nggak wajar” pun sering ditanyakan pada pasangan yang sudah menikah. 




“ udah ‘isi’ belum? ”
pertanyaan yang sering banget ditanyakan terutama ke pasangan yang baru menikah. mungkin terkesan sederhana, bisa menjadi kalimat basa-basi, biasa dilontarkan oleh orang lain kepada para pasangan yang baru menikah. “isi” di sini menujuk pada kata hamil. let me tell you something, perkara memiliki anak ketika sudah menikah adalah perkara personal pasangan tersebut. that's too personal. meskipun aku nggak tau intensi mereka menanyakan hal tersebut, but it's too cheesy bila hanya sekedar dijadikan pertanyaan basa-basi tanpa ada effort apapun. it's not our business ketika sepasang suami-istri memutuskan apa yang terbaik untuk mereka berdua perihal rencana memiliki anak atau memutuskan untuk child-free. it's not our business because it's their personal thing. buat sebagian masyarakat, menanyakan hamil atau belum adalah hal yang lumrah, mencampuri urusan orang lain atau hanya sekedar basa-basi ingin tahu adalah hal yang biasa dan wajar. and that is SO SAD. it's so sad ketika masyarakat masih melumrahkan masalah atau keputusan pribadi seseorang dan menjadikannya konsumsi khalayak banyak. do you ever imagine bagaimana perasaan mereka yang ditanya pertanyaan tersebut? when they want it so badly or when they don't want it at all? how do they feel when you asked those cheesy question for the sake of “basa-basi” or just to feed your curiousness?



“ kapan mau punya anak? kok belum hamil? mandul ya? ”
biasanya pertanyaan macam gini ditanyakan pada pasangan yang sudah menikah cukup lama tapi belum juga dikaruniai keturunan. sama seperti pertanyaan di atas, mungkin saja mereka menginginkan memiliki keturunan namun belum juga diberi meskipun telah berusaha mati-matian dengan segala cara. you never know the tears they try to hide everytime people asked the question. who are you? how dare you? kita nggak pernah bener-bener tahu usaha apa aja yang telah mereka lakukan untuk memiliki seorang anak, nggak pernah bener-bener tahu rasa sakitnya perjuangan untuk memiliki seorang anak. and it's sad ketika orang yang sama sekali nggak terlalu kenal dengan baik malah menanyakan hal-hal serupa, terlebih ditambah dengan hujatan atau penghakiman. every one of us has a story you never know about. setiap orang memiliki masalah atau kisah tersendiri yang nggak semua orang tahu, there must be something we never know about someone's life. 




“ kapan mau nambah anak? kasian dede-nya sendirian terus mainnya ”
lagi dan lagi, masyarakat kita nggak pernah puas untuk selalu bertanya pertanyaan murahan yang sama sekali bukan urusannya terkait urusan personal orang lain. ketika menikah ditanya kapan punya anak, setelah memiliki anak ditanya kapan nambah anak. is it a cycle? a healthy cycle?
buatku, memiliki anak adalah rezeki yang berupa amanah di mana memiliki tanggung jawab yang besar. because being a parent is not that easy as it seems. raise a child is a big responsibility to every parents in this world. and every parents has different struggle to raise their child. setiap orang tua memiliki masalah dan perjuangannya sendiri-sendiri untuk membesarkan seorang anak. setiap orang tua memiliki pertimbangan tersendiri terkait dengan menambah anak dalam keluarga mereka, bisa jadi karena masalah tempat tinggal, masalah finansial, masalah siapa kelak yang akan membantu mengurus anak-anak ketika ada seorang anak lagi dalam keluarga, dan sebagainya. there's so many things we should think about having another children. 







sebagai seorang perempuan yang baru beberapa bulan resmi menjadi seorang istri dari seseorang laki-laki, i know how it feels to be asked those cheesy questions. and i wouldn't dare to ask to someone because i know how rude it is and i want to stand up for myself and for those who feel the same. mungkin ada baiknya kalau kita belajar untuk nggak terlalu kepo alias terlalu ingin tahu urusan-urusan orang lain, terlebih urusan pribadi. bisa jadi, pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang kita pikir adalah pertanyaan "basa-basi" untuk memulai obrolan adalah pisau bermata dua untuk lawan bicara, it might hurts them so bad, we never knew. 


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
i've just done watching TEDx Talks on YouTube this morning during my working hours. it's about "how not to take things personally?" by Frederik Imbo. and i'm thinking a lot ever since. here's the link if you want to watch it, it's very opening up my mind! How not to take things personally? | Frederik Imbo | TEDxMechelen





Frederik menjelaskan kenapa kita seringnya menganggap serius atau menganggap hal-hal yang orang lain lakukan adalah karena kita atau untuk kita. let me tell you something. Frederik memberikan contoh mengapa ketika kita berkendara (mobil) di tengah malam, kita melihat ada mobil lain di belakang kita yang memberikan lampu sign yang berkedip atau membunyikan klakson berkali-kali kemudian kita berpikir "am i haunted?" yang biasanya di ikuti dengan umpatan-umpatan bernada kesal. mungkin kita akan merasa bahwa pengendara di belakang tersebut sedang mengusik ketenangan berkendara kita, atau kita akan merasa bahwa pengendara tersebut sangat ingin menjahili kita. sekali lagi, kita tahu bahwa apa yang kita keluarkan sebagai output atau respon dari suatu hal is totally our control. we control our own responds, our own actions. also we control our own minds. kita bisa berpikir seperti itu, which means negative way, it's because we used to think so. we used to take things personally. in fact, there must be a reason why the driver behind us do that way, isn't? there must be a reason why the driver do that and has nothing to do with us. 


sebagai contoh lain, when we walk out the door and see our friends looking at us and they're laughing. what are we used to think? personally, i used to think "oh god, they're laughing at me. they're mocking me and laugh! what's wrong with me? with how i dressed today? they're must be talking about me." yes, aku akan berpikir bahwa mereka sedang menertawakanku dan bergosip tentangku dan mungkin itu adalah hal lucu untuk mereka. you used to think so, didn't you? tapi ketika kita berusaha mengubah cara berpikir kita terhadap hal itu in positive way, we'll think that they're laughing about something and has nothing to do with us either because we just met. padahal kenyataannya belum tentu demikian. there's a thousand reason why they're laughing and suddenly our eyes met, as simple as that. 


dari dua contoh yang sudah aku jelaskan, kita nggak pernah tahu kenyataan sebenarnya dan apa yang ada di dalam kepala mereka, atau tujuan mereka sebenarnya apa. kita merasa seperti itu karena otak kita terbiasa berpikir seperti itu, disadari atau tidak. we never know their true intention. jadi, kenapa kita selalu menganggap segala hal secara personal? kenapa kita selalu berpikir bahwa apa yang orang lain katakan atau lakukan adalah tentang kita secara pribadi? why do we take things personally? do you know how many thoughts a brain produce a day? it's 50,000! and guess how many of them are positive? it's only 10,000! the rest of them (40,000) are negative. that's why we used to think negative way first, because our brains does. 


Frederik Imbo gives us two strategies how not to take things personally :
  • It's Not About Me : look at the other person's intention. it's not always about me when driver tailgating and flashing his lights, maybe he does it because he's in hurry or something. it's not always about me when some girls laughing through their eyes on me, maybe they're talking about comedy TV show last night or talking about how funny stand-up comedians are. and i think we should take a look of the other person's perspective, not only ours. i know it takes a lot of effort to correct yourself and say, "hang on, i have no clue." 
  • It's About Me : give yourself empathy and speak up about it. maybe it's about me when the driver tailgating and flashing his light because i drive too slow and i shouldn't do that. maybe it's about me when someone says, "you are so selfish" because deep down inside we have tiny little thing called selfish in ourselves whether we like it or not. if it happens, why don't we take a mirror and look at ourselves, "is it true? i need introspection myself." or if it happens, we can speak up about our intention, about how we truly feel about it. we speak up, tell the truth. by opening up, by being vulnerable, by being honest telling the truth what's going on inside of us without blaming the other one, we increase the chance that the other one will understand us. speak up and be brave.


the last thing that hits me so hard is the last sentence of Frederik's presentation : 



"people may attack you, criticize you, or ignore you, they can crumple you up with their words, spit you out or even walk all over you, but remember whatever they do or say, you will always keep your value."






Share
Tweet
Pin
Share
No komentar



tiap dari kita pasti pernah diperlakukan nggak baik sama orang lain, entah itu lewat perkataan atau perbuatan lainnya. lalu pasti sedikit banyaknya kita merasa sakit hati, atau setidaknya merasa kesal atau sebal telah diperlakukan nggak baik. apakah kamu pernah diperlakukan seperti itu? 


kita sebagai manusia punya kuasa penuh atas diri kita sendiri, kan? otak serta akal yang telah Tuhan beri tentu saja kita bisa pergunakan untuk berpikir dengan akal yang sehat, kan? setiap orang punya reaksi yang berbeda-beda ketika dihadapkan dengan rasa sakit hati atau rasa kesal yang disebabkan oleh orang lain. setiap orang punya pilihannya sendiri untuk bereaksi terhadap sesuatu. kita bisa pilih bereaksi marah ketika orang lain berlaku buruk pada kita, kita bisa pilih bereaksi pasrah, atau kita bisa pilih bereaksi tetap tenang dan tetap tersenyum meski diri ini diperlakukan buruk. 


i choose to be kind for myself. 


people will eventually feel better in their own way. orang lain akan merasa baik-baik saja setelahnya ketika gemuruh dalam dada mereka mereda kemudian akhirnya menyadari perbuatan-perbuatan buruknya, namun hanya sedikit yang mengaku kalah, mengaku salah, karena memang begitulah adanya. dan hal yang bisa kita lakukan adalah memahami cara berpikir, bersikap, dan berlaku setiap individu berbeda-beda.


aku lebih memilih untuk menjadi orang baik untuk diriku sendiri, sebab segala hal yang aku lakukan pada akhirnya akan kembali lagi padaku. seperti ada pepatah mengatakan,


"dia yang menanam, dia pula yang menuai hasilnya"


and we do responsible for all the things we do because we control our own action, every single action. 


kamu mau pilih yang mana?



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


hi!

akhir-akhir ini aku lagi suka mendengarkan beberapa podcast entah itu di kanal Youtube atau di Spotify atau lebih tepatnya acara bincang-bincang mau dimanapun itu berada. narasumbernya pun bermacam-macam mulai dari penyanyi, aktor, influencer, youtuber, hingga public figure lainnya. dan akhirnya aku menyadari sesuatu yang aku suka; mendengarkan. ya, mendengarkan atau menyimak suatu obrolan atau topik yang menarik bikin aku punya banyak insight baru dan tentu aja belajar dari pengalaman-pengalaman si narasumber ini.

di berbagai bincang-bincang ini, ada satu hal yang paling menggelitik, yang membuat kepala ini mikir keras berkali-kali. setiap dari mereka selalu bilang “set your life goals, and be focus on it” entah dalam merintis karir atau di berbagai aspek kehidupan lain. life goals alias tujuan hidup, hidup kamu mau di bawa kemana? apa yang menjadi tujuan kamu hidup di dunia ini? mau ngejar karir dan jadi bos atau pengusaha? ya boleh-boleh aja, fokus jadi pengusaha. mau kuliah S2 di luar negeri? ya fokus belajar yang benar agar diterima studi S2 di luar negeri. semua selalu ada tujuannya.


tapi, bagaimana kalau kita punya tujuan hidup yang biasa aja? atau bahkan, nggak punya tujuan hidup selain hanya sebatas menjalani apa yang ada, hanya sebatas berusaha sebaik mungkin dalam hal apapun di setiap harinya? hanya sebatas berusaha memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik? atau hanya sebatas untuk bertahan hidup? 


if i ever asked, “what's your life goals?” then i'm gonna say, “i don't know”


aku nggak terlalu suka membuat tujuan tertentu dalam hidup. aku lebih suka travelling tanpa harus khawatir apakah tujuan hidupku akan tercapai atau nggak. aku lebih suka berkelana, memiliki beberapa rencana agar lebih ter-organize dengan rapih tanpa memusingkan kapan aku sampai di finish.


katanya, tujuan hidupmu biasanya ditentukan dari passion-mu. namun sampai di usia dua puluh lima tahun, i never knew what my passion is. aku nggak pernah tahu apa hal yang benar-benar menjadi passion-ku. should i find it? have you find it? apakah aku perlu mencari passion-ku yang sebenarnya? because i do love a lot of things. aku menyukai banyak hal hingga aku nggak bisa benar-benar memilih mana yang ingin kujadikan passion. semua hal yang kusukai mempunyai plus dan minusnya masing-masing. 


pada akhirnya, setiap tujuan yang sudah manusia tentukan belum tentu benar-benar membuat mereka bahagia, kan? mereka akan selalu memiliki tujuan lain setelah mencapai garis finish dari satu tujuan sebelumnya. lantas apa? apa setelah mencapai satu tujuan lalu akhirnya akan merasa bahagia? akan merasa puas? i bet most of them never really got that kinda thing. 


pada akhirnya aku hanya ingin berjalan saja, melatih diriku untuk belajar menemukan jalan-jalan baru dalam hidup dan nggak terjerat dari "tujuan" tertentu. aku hanya ingin menikmati setiap momen yang ada dan mensyukuri apa yang ada di sekitarku selama perjalanan. karena apapun tujuanku, aku sama sekali nggak punya kuasa untuk memastikan aku akan ada di sana, aku hanya bisa berjalan ke arah sana sembari menikmati setiap jalan yang kulalui dan orang-orang yang kutemui, menerima dan bertahan pada setiap kerikil atau bahkan bebatuan besar yang mungkin menimpaku selama perjalanan.


and i'm still working on it. :) 




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
hi!




memasuki usia 25 di tahun ini merupakan sebuah pencapaian terbesarku, mengingat banyak hal yang terjadi di tahun 2020 ini begitu tiba-tiba tanpa terencana. dimulai ketika awal tahun, aku begitu frustasi karena masalah ekonomi dan berbagai ‘mimpi’ terencana untuk tahun ini yang mendadak pupus. tes CPNS yang belum masuk peringkat untuk ke tes tahap selanjutnya hingga masalah pekerjaan paruh waktu yang coba kuambil di awal tahun ini. belum lagi berbagai sektor kehidupan babak belur dihantam badai pandemi covid-19 yang hingga kini belum juga mereda. Allahuakbar, tahun ini banyak sekali hal terjadi di luar kuasa kita semua.


hal yang masih menjadi sorotan dan butuh perhatian lebih dari kita semua adalah badai pandemi covid-19. sejak awal pandemi sekitar bulan maret 2020 lalu, aku memutuskan untuk mengikuti anjuran pemerintah untuk berdiam diri di rumah, melakukan karantina mandiri, mengurangi sebagian besar aktifitas di luar rumah. kantor, pusat perbelanjaan, tempat hiburan, hingga tempat makan mendadak sunyi. hampir semua aktifitas dihentikan berimbas pada roda perekonomian yang kian hari kian merosot. banyak perusahaan melakukan PHK akibat terus meruginya laba perusahaan hingga pengangguran dimana-mana.


tahun ini mengingatkanku untuk selalu bersyukur. there's so many people out there, jobless, because of this pandemic. i still got a job even my boss didn't pay me enough, but at least i still got a job. there's so many people out there, covid-19 got their loved ones away. my loved ones are healthy. that's the things i want to be grateful of. that's the things i want us to be grateful of. 


for those who already lose their hopes, it's so hard to believe in hope once you lose it. i know it damn too well. if you need to be weak or cry at the moment, go on. i know sometimes we need to embrace our sadness once or twice. but there's some other time the light's coming  to light up your whole life, even it's just a little one. and i do believe in God would grant all of prayers in the right time, because it happened to me once or twice lately.


the most important thing in this year is, we survive. we need to and we have to. thank god, we're alive and well. 

:)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

welcome to a room to talk, a place where we could talk about anything and feel safe.

Social Media

  • tumblr
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Blog Archive

Send Me A Message!

Nama

Email *

Pesan *

Popular Posts

  • Introvert VS Ekstrovert, Mana Yang Lebih Keren?
    Pernah berpikir kenapa manusia di kotak-kotakan dengan kepribadian MBTI antara Introvert dan Ekstrovert? Haha sebab jujur saja, aku sebenarn...
  • 2025 Intro...
    It's almost 2026 and I'm still stuck. Hehe. Tahun 2025 hampir berakhir tapi aku masih merasa stuck di tempat. Hehe. Nggak, sebenarny...
  • Hello, 2023!
    hi! how are you? it's been more than a year i didn't post anything. it feels hard and weird to write again after very long break tim...
  • Journey: Born To Be A Mother
    beberapa bulan lalu, seorang publik figur—Najwa Shihab—pernah berkata bahwa kodrat perempuan itu hanya ada 3; menstruasi, hamil & melahi...

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates