Diberdayakan oleh Blogger.
  • Home
  • About Me
  • Thought
    • Self-Talk
    • Thought Of Life
  • Contact

A Room To Talk

Hello 2026 !

Kali ini aku menulis dengan perasaan kurang baik. Kamu tahu kenapa? Ah sudahlah banyak hal yang sebenarnya tak perlu aku ceritakan di sini mengingat ini adalah ruang publik. Sejujurnya, saat ini aku tak tahu harus menulis apa. Aku hanya ingin sekedar menulis. Dibalik suasana hati yang kurang baik, aku harap menulis membantuku untuk kembali stabil seperti sediakala.

Setelah segala usaha dan doa yang telah aku lakukan dan rapalkan, akhirnya Tuhan memberikan kesempatan untukku yang sesuai dengan keinginanku. Entah itu baik atau kurang baik, aku hanya berharap Tuhan tetap memberikan perlindungan, pertolongan, serta kekuatan untukku dan keluarga kecilku di tengah badai kehidupan yang tak menentu. 

Mungkin tahun 2026 akan menjadi petualangan baru untukku. Akan ada banyak orang baru di sekitarku, akan ada lingkungan baru untukku, tentunya mungkin dengan berbagai masalah baru. 

Bismillahirahmanirrahim.. 

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
It's almost 2026 and I'm still stuck. Hehe.

Tahun 2025 hampir berakhir tapi aku masih merasa stuck di tempat. Hehe. Nggak, sebenarnya aku nggak benar-benar stuck. Hanya saja seringnya aku merasa demikian. Setelah beberapa tahun tak menulis apa-apa, di penghujung tahun ini tiba-tiba aku ingin menemukan diriku lagi yang suka menulis. Aku tahu, aku terlambat. Sangat terlambat, malah. Tapi nggak apa-apa. Aku mau memulai lagi sesuatu yang sangat aku cintai ini. Izinkan aku bercerita sedikit tentang berbagai hal yang terjadi di hidupku selama beberapa tahun.




Postingan terakhir di blog ini ditulis bulan Maret 2023. Aku nggak terlalu mengingat apa yang terjadi di tahun tersebut--nggak terlalu banyak yang terjadi juga--hingga semuanya nampak sama. Back then in 2024, few months before 2024 ended, aku berusaha mati-matian belajar untuk mewujudkan salah satu impian kecilku. but by the end of 2024, on last day of 2024, aku mengalami kekecewaan terbesarku. impianku mendadak DUAAARRR hancur lebur. I didn't want to explain why, but, i cried and feeling so blue for almost a week. a whole damn week. tapi akhirnya aku berusaha bangkit lagi dan menerima kenyataan. jump back to May 2025, aku harus mulai Long Distance Marriage (LDM). It was so hard, honestly. It was fucking hard in the first two months. Namun aku sadar dan belajar menerima banyak hal dalam hidup ini. Termasuk beberapa kesulitan dan kepedihan yang harus aku hadapi sendiri selama LDM.

2025 is not my year. Honestly, it's not mine at all. But thank God, semua yang terjadi di tahun 2025 ini mengajariku satu hal; aku harus berdiri di atas kakiku sendiri. Aku nggak bisa bergantung pada orang lain, aku nggak bisa menggantungkan nyawaku dan anakku pada orang lain, sebab aku seorang ibu. Ehehe.

But anyway, that's for the quick update of mine. Hehe. See you on another post, people. Lol. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
beberapa bulan lalu, seorang publik figur—Najwa Shihab—pernah berkata bahwa kodrat perempuan itu hanya ada 3; menstruasi, hamil & melahirkan, dan menyusui. setujukah kamu dengan pernyataannya tersebut?

di era modern seperti sekarang ini, masih banyak orang yang mengkotak-kotakan masalah gender; perempuan harus begini, laki-laki harus begitu, perempuan harus bermain boneka, laki-laki harus bermain mobil-mobilan, laki-laki tak boleh nangis, perempuan tak boleh lantang bersuara, dan lain-lain dan sebagainya. nggak dapat dipungkiri bahwa kita memang hidup di tengah-tengah jaman yang modern dengan masih ada (bahkan banyak) orang dengan pola pikir demikian. nggak cuma mengkotak-kotakan masalah gender, mereka pun mengkotak-kotakan orang dalam ke beberapa ‘genre’ tertentu seperti status sosial/ekonomi, status hubungan/pernikahan, status pendidikan, dan lain-lain. tak bisakah kita menjadi apapun yang kita inginkan tanpa menghiraukan ‘kotak’ yang mereka labeli pada diri kita berdasarkan gender?


terlahir sebagai seorang perempuan membuatku tanpa sadar percaya bahwa perempuan harus begini, perempuan harus begitu, perempuan tak boleh begini, dan perempuan tak boleh begitu. so many rules, so many boxes they put me into. hingga akhirnya aku pernah percaya bahwa kotak-kotak tersebut adalah benar adanya, bahwa kotak-kotak tersebut serupa kodrat yang telah Tuhan tetapkan untuk perempuan. perempuan dan laki-laki memang berbeda secara fisiologis namun bukan berarti secara keseluruhan memang harus dibedakan, bukan?


sebagai seorang perempuan, kini kodrat yang kupercayai adalah menstruasi, hamil & melahirkan, serta menyusui. sisanya kurasa perempuan berhak mendapat kesempatan, waktu, dan perlakuan yang layak seperti laki-laki. and this very moment, aku telah melalui banyak hal yang mereka sebut kodrat dan kini aku melalui 3 kodrat yang kuyakini sendiri; hamil, melahirkan & menyusui.





ketika mengetahui bahwa sedang ada janin tumbuh dan berkembang di dalam rahim, yang paling kutakutkan adalah proses persalinan. semasa kehamilan 9 bulan yang kulalui memang nggak bisa dibilang mudah, namun Tuhan memudahkan semuanya hingga detik ini. Alhamdulillah. persalinan merupakan fase yang paling mengerikan buatku. persalinan adalah sebuah proses menyakitkan sekaligus membahagiakan, begitu menguras tenaga dan pikiran hingga rasanya ingin hidup ini di-‘pause’ dulu, ingin rasanya mengambil jeda sebentar untuk sekedar beristirahat atau lompat ke bagian hidup yang lain.

begitu banyak darah yang keluar kala itu, begitu banyak tenaga yang kukeluarkan, begitu banyak perhatian yang tercurahkan selama prosesnya. ketika nyeri kontraksi semakin hebat setiap waktunya, diantara perasaan takut sekaligus tak sabar untuk bertemu dengannya, yang bisa kulakukan hanyalah berpasrah berserah diri sambil menahan sakit sekaligus merapalkan shalawat yang selalu kuucap ketika perasaan tak menentu. satu jam lamanya tubuh ini berusaha sebaik mungkin bertahan tak hanya untuk diri sendiri namun untuk diri yang lain yang detak jantungnya berusaha kupertahankan iramanya, hingga akhirnya suara tangisnya memecah keheningan malam. setelah berjam-jam berteman dengan rasa sakit yang berujung lelah hingga tak sanggup untuk sekedar berbicara dengan jelas, hanya mampu berbisik. namun suara tangisnya yang keras mampu menghangatkan hatiku. untuk pertama kalinya dunia menyambutnya dengan udara AC yang begitu dingin. kulitnya begitu bersih, bibirnya yang berwarna merah, hidungnya yang mancung, dagunya yang lancip serta matanya yang begitu kecil terlihat tenang ketika suara syahadat dan adzan berkumandang di telinganya. cantik, begitulah yang kuucapkan. 

pasca persalinan memang nggak mudah, tugas baru sebagai ibu adalah yang terberat sekaligus membahagiakan. belajar untuk memahami setiap tangisnya, setiap bahasa tubuhnya, serta setiap gerak gerik yang ia lakukan. belajar untuk menyusui langsung secara benar—meski akhirnya menyerah pada keadaan—serta belajar untuk menerima sebenar-benarnya seikhlas-ikhlasnya untuk memahami berbagai tanggungjawab yang kini dibebankan padaku sebagai seorang ibu. tentu saja semua itu nggak mudah untukku yang memiliki nol pengalaman dalam mengurus bayi. but that's something i could learn, eh? 

kini ketika mengingat-ingat kembali momen persalinan, somehow aku merasa bangga pada diriku sendiri karena telah bersabar, berjuang, dan bertahan dari segala rasa sakit yang hebat serta lelah yang kukira tak akan berhenti hingga akhirnya ia lahir dengan selamat.

seorang putri cantik, anak pertamaku, yang kuberi nama Kinanti Allura Azwar yang lahir pada awal bulan Agustus karena ia memilihnya sendiri kini sudah berusia 3,5 bulan, dalam keadaan sehat, and i'm so grateful for her. 


thank you for choosing me as your mother and my soulmate as your father, Neng. we're going to try so hard our best to fulfill your heart with warmth and happiness—also health we can provide.
and personally, i'm going to fix me so you don't have to feel what i feel for years—trauma(s) and so on.
사랑해
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
it's 37 weeks 2 days

menjadi seorang ibu adalah hal yang tak pernah aku sangka akan secepat ini datangnya. perjalanan menjadi seorang ibu sampai sejauh ini menurutku bukan hal yang mudah, meski aku bersyukur bahwa Tuhan mudahkan semua jalan dan menguatkan hati dan pundakku dalam perjalanan awal menjadi seorang ibu.


ini adalah cerita kehamilan pertamaku—anak pertamaku.





jujur, banyak ketakutan yang aku rasakan ketika tahu bahwa aku akan menjadi seorang ibu. pada fase awal kehamilan—trimester pertama—hormon tubuhku bergejolak. banyak hal yang kurasakan dan mereka bilang itu adalah hal biasa bagi perempuan hamil di masa awal kehamilan. di awali dengan perasaan aneh yang mengganggu, morning sickness yang hampir membuatku kehilangan nafsu makan dan stress, hingga perasaan takut yang menghantui dalam kepala. ketakutan utama yang saat itu kurasakan salah satunya yakni aku meragukan diriku sendiri.


“sanggupkah aku menjadi seorang ibu yang baik?”

“wajarkah bila aku sering merasa moody ketika menjadi ibu kelak?”

“bisakah aku mengurus dan mendidik anakku kelak?”

“bisakah aku menjalankan tiga peran sekaligus; sebagai seorang perempuan biasa, seorang istri, dan seorang ibu?”

“akankah aku menjadi sosok ibu yang tidak aku inginkan?”

dan lain-lain.


berbagai pertanyaan semacam itu muncul dalam kepala dan membuatku takut sekaligus ragu pada diri sendiri. terlebih ketika lonjakan hormon tengah bergerilya dalam tubuh, perasaan akan semakin sensitif dalam segala hal. mudah tersinggung, mudah marah, mudah berubah mood, mudah lelah, hingga mudah bersedih dan stress. tak jarang, aku sering menangis sendirian di malam hari ketika perasaan takut dan ragu muncul. perasaan bahwa aku tak cukup baik untuk menjadi seorang ibu, perasaan bahwa aku pasti akan mengecewakan anakku kelak, perasaan bahwa mungkin saja anakku akan membenciku karena aku tidak menjadi sosok ibu yang ideal seperti kebanyakan perempuan. seketika aku akan merasa kesal dengan diriku sendiri. 


aku yang sejujurnya belum siap menjadi seorang ibu kala itu, mau tidak mau belajar untuk menerima kehendak Tuhan. aku tidak ingin perasaan-perasaan itu terlalu lama menggangguku, biar bagaimanapun aku tetap harus waras dalam menjalani peran baru ini—sebagai seorang istri sekaligus calon ibu. sedikit demi sedikit aku belajar untuk ikhlas dan lebih menyayangi diri serta calon anak yang sedang kukandung. perlahan tapi pasti berkat dukungan dari laki-laki istimewa—suami—aku mulai belajar kembali hidup normal dan mensyukuri apa yang Tuhan beri serta memaknai kehamilan ini dengan lebih sungguh-sungguh. terlebih ketika pertama kali mendengar detak jantungnya yang berdetak dengan semangatnya di dalam rahimku, seolah memberi berkata, “hey! ada aku di sini, di dalam sini. aku tumbuh dengan baik di sini. terima kasih, ya.” dengan penuh kehangatan, kegembiraan dan cinta yang bertubi-tubi. speechless dan hampir menitikan air mata. seketika aku sadar akan kebesaran Tuhan, dan perasaan bahagia mendadak menyeruak di dada. dokter berkata bahwa makhluk kecil yang berada di dalam rahimku sehat dan lengkap tak kurang satu apapun. alhamdulillah rasanya nggak bisa berhenti bersyukur atas anugerah yang Tuhan beri.


hal traumatis yang sempat aku alami ketika awal kehamilan adalah minum obat/vitamin. jujur, aku sangat ketakutan menerima kenyataan bahwa aku akan kembali ke rutinitas minum obat/vitamin setiap harinya mengingat tahun 2018 hingga 2019 lalu harus berobat jalan di sebuah RSUD dan rutin setiap hari minum obat demi kesembuhanku. selama hampir satu tahun aku harus berteman dengan berbagai obat-obatan. pengalaman tersebut membuatku ketakutan dan kembali mengingat betapa muak dan bosannya aku berteman dengan obat-obatan setiap harinya hingga hampir menangis.
tak hanya itu, hampir setiap hari aku harus berteman dengan rasa mual yang berujung muntah setiap pagi dengan badan yang lemas. bahkan ketika makan, aku bisa dengan mudahnya merasa mual dan memuntahkan segala isi perut sampai kosong tak bersisa.
hari-hari itu adalah hari-hari yang melelahkan, menakutkan, dan menguras tenaga serta emosi. hari-hari itu adalah hari-hari yang berhasil kulewati dengan perasaan ikhlas meski tak mudah. hari-hari itu adalah hari-hari yang akan menjadi kenangan dan akan kuceritakan kelak kepada makhluk mungil ini. ia hanya perlu mendengarkan meski mungkin tak mengerti apa yang kuceritakan. 


hari demi hari aku lewati dengan berbagai rintangan serta tantangan baru selama masa kehamilan. tak banyak yang berubah dari hidupku selain rutinitas minum vitamin dan makan makanan lebih bergizi dari biasanya serta mengatur pola makan lebih disiplin lagi. semua itu semata-mata demi menjaga makhluk mungil ini tetap sehat, ceria, dan semangat di dalam sana.
hari demi hari aku melihat dan merasakan perubahan pada tubuhku. setiap kali melihat cermin, perut semakin membesar, pipi semakin membulat, dan bagian paha semakin membesar. memang tak terlalu banyak yang berubah dari bentuk tubuhku selain hal-hal yang kusebutkan tadi.


setiap kali waktunya check-up ke dokter kandungan, jantungku berdebar lebih kencang dan perasaan cemas menyelimuti. berbagai pertanyaan mengenai makhluk mungil ini bergerilya dalam kepala. apakah ia sehat? apakah pertumbuhannya normal? apakah berat badannya cukup? selalu dan selalu pertanyaan itu yang muncul. alhamdulillah tak henti-hentinya aku mengucap syukur selepas ‘bertemu’ dengannya lewat layar USG. mendengar setiap degup jantungnya yang sehat dan melihat pergerakannya melalui layar USG membuatku bernapas lega. setiap gerakannya yang kurasakan dimulai dari usia 20 mingguan hingga saat ini, membuatku yakin bahwa ia tumbuh dengan sehat dan bahagia. ya, aku harus sehat dan bahagia untuknya. meski terkadang tendangan dan pergerakannya yang tiba-tiba terlebih ketika malam hari, aku berusaha bersyukur dan menikmati setiap prosesnya.


setiap rasa sakit, lemah, dan rasa tak berdaya yang kurasakan semoga membuat ia semakin sehat dan kuat setiap waktunya. setiap rasa bahagia, cinta, dan suka cita yang kurasakan semoga membuat ia semakin berbahagia di dalam sana sampai nanti waktunya tiba untuk kita bertemu, berbagi pelukan dan berkumpul bersama sebagai keluarga kecil dengan keadaan selamat, sehat, dan sempurna.
mungkin saja nanti boneka yang biasa kupeluk setiap malam akan berganti dengan ia yang lahir dari rahimku, akan kupeluk ia semalaman dan menjaganya tetap nyaman dan hangat. inikah yang dinamakan cinta seorang ibu pada anaknya? inikah yang dinamakan cinta bahkan sebelum bertemu namun merasakannya sangat dekat di jantung hati? inikah yang dinamakan naluri seorang ibu yang ingin melindungi anak dan keluarganya?


hidupku seketika berubah setelah ia hadir; sebuah perubahan yang tak pernah kusangka sebelumnya, sebuah perubahan yang akan membawaku pada fase kehidupan selanjutnya sebagai seorang perempuan—seorang ibu—dan ketika saat itu tiba, mungkin aku akan benar-benar mengerti arti dari seorang ibu seutuhnya. 


terima kasih, ya, sayang, telah mau bersabar dan berjuang bersama. terima kasih telah mau memahamiku yang dipercaya Tuhan untuk menjagamu—menjadi ibumu—di dunia ini. terima kasih telah mau mendengar setiap perkataan dan ceritaku yang pasti tak jarang membuatmu bosan. terima kasih telah menemaniku dalam suka dan duka, menemaniku kemanapun aku pergi, duduk dan makan bersamaku. terima kasih telah menjadi anak yang baik selama ini.  bismillahirahmanirrahim, tak sabar untuk bertemu dan memelukmu, anak baik. ❤️
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

welcome to a room to talk, a place where we could talk about anything and feel safe.

Social Media

  • tumblr
  • facebook
  • twitter
  • instagram

Blog Archive

Send Me A Message!

Nama

Email *

Pesan *

Popular Posts

  • Introvert VS Ekstrovert, Mana Yang Lebih Keren?
    Pernah berpikir kenapa manusia di kotak-kotakan dengan kepribadian MBTI antara Introvert dan Ekstrovert? Haha sebab jujur saja, aku sebenarn...
  • 2025 Intro...
    It's almost 2026 and I'm still stuck. Hehe. Tahun 2025 hampir berakhir tapi aku masih merasa stuck di tempat. Hehe. Nggak, sebenarny...
  • Hello, 2023!
    hi! how are you? it's been more than a year i didn't post anything. it feels hard and weird to write again after very long break tim...
  • Journey: Born To Be A Mother
    beberapa bulan lalu, seorang publik figur—Najwa Shihab—pernah berkata bahwa kodrat perempuan itu hanya ada 3; menstruasi, hamil & melahi...

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates